Dalamsuku Batak Toba terdapat sistem kekerabatan yang menampilkan budaya patriarki yaitu Dalihan Na Tolu dalam bahasa Indonesia berarti Tungku Nan Tiga. Tiga unsur dalam Dalihan Na Tolu diantaranya: - Manat Mardongan Tubu (kerabat satu marga), artinya memelihara hubungan antar kerabat satu marga khususnya laki-laki. LegendaLaw Kawar. Legenda Lau Kawar merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki wilayah seluas 2.127,25 km 2 ini terletak di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara. Oleh karena daerahnya terletak di dataran tinggi, sehingga kabupetan ini dijuluki Taneh Karo Simalem. 1 Sejarah Batak Asli. Cerita Si Raja Batak, dalam versi aslinya, bermula dari rombongan yang berasal dari Thailand, yang mana menyeberang ke Sumatera. Rutenya sendiri diyakini mengambil jalur ke Semenanjung Malaysia, hingga akhirnya sampai ke Sianjur Mula-mula serta menetap disana. Tentunya wilayah tersebut, meski sudah mengalami berbagai Untukkamu yang sedang mencari cerita rakyat dalam bahasa Inggris , dibawah ini saya telah menuliskan sebuah cerita rakyat bahasa Inggris b Cerita Rakyat Bahasa Inggris Danau Toba. One of the famous folk story in Indonesia is the story of the area of Lake Toba (the origin of Lake Toba). On this occasion, I will share Buy1 Get 1. Istilah ini memiliki arti yaitu beli 1 dapat 1. Sesuai namanya, Buy 1 Get 1 biasanya adalah promo di mana kamu mendapatkan 1 barang gratis dari 1 barang yang kamu beli. Jadi kamu bisa dapet 2 barang dengan harga yang lebih terjangkau. Nah, itu dia istilah-istilah belanja online yang sering kita jumpai. 17 Cerita Rakyat Yang Paling Menarik Dan Populer via Nabi Nuh Lengkap Dengan Gambar - Ceritain Bergambar via ceritainbergambar.blogspot.com 1001+ Cerita Rakyat Nusantara, Pendek, Yang Melegenda Di via salingamanah.com Namundalam Artikel ini saya akan menyampaikan mengenai suku Batak pada umumnya terdapat beberapa sudut pandang yang berbeda mengenai Asal-usul suku Batak. yang pertama ahli sejarah Batak ada yang mengatakan bahwa Si Raja Batak berasal dari daerah Thailand yang menyeberangi Pulau Sumatera bersama dengan rombongannya melalui semenanjung Malaysia BacaJuga. Kerajaan Islam Di Maluku. Cerita Rakyat Bahasa Makassar "TAU DORAKAYA RI TAU TOANA". Sejarah. Tolong diterjemahkan dlm bahasa Indonesia. 30 Oktober 2021 01.55. Kalau bisa menggunakan Huruf LONTARA. Agar dapat memberikan komentar, klik tombol di bawah untuk login dengan Google. RITUALPARMALIM DALAM CERITA ASAL-USUL ETNIS BATAK: PENDEKATAN ANTROPOLOGI SASTRA . OLEH . SEVENRI HARIANJA . NIM 150701042 . Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah di ajukan untuk memeroleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat yang pernah Kataini tidak muncul di dalam kamus webster sampai akhir tahun 1957 Orang beriman menyebarkan Islam melalui berbagai saluran Seharusnya kita bangga sebagai warga Indonesia yang mimiliki banyak kebudayaan yang unik bahkan dalam sisi mistis pun menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia yang menarik perhatian masyarakat serta turis mancan negara ldLf. Wajah Sigale-gale. Sumber Wiki. Rupanya menyerupai manusia. Pada tubuh yang mematung itu dipakaikan busana orang dewasa sementara bahunya diselempangkan kain ulos. Matanya memancarkan tatapan kosong. Namun, ketika alunan musik gondang berdentang, tubuhnya bergerak bak penari tortor yang piawai. Siapa saja yang melihatnya niscaya akan turut terbuai lantas ikut menari. Begitulah sosok Sigale-gale, boneka kayu yang berada di Desa Tomok, Pulau Samosir, Sumatra Utara. Namun, Anda tidak perlu takut terhadap Sigale-gale. Di belakang podium tempat Sigale-gale berdiri, ada seorang dalang yang mengendalikan gerakan Sigale-gale. Tarikan benang dalang yang tersembunyi itulah yang membuat Sigale-gale seolah menari sendiri. Sigale-gale sendiri dalam bahasa Batak Toba berarti lemah gemulai. Legenda tentang Sigale-gale menurut perkiraan masyarakat Batak, seperti diteliti M. Saleh dalam Seni Patung Batak dan Nias, menyatakan bahwa kehadirannya bersamaan dengan seni topeng yang terdapat di daerah itu. Oleh karenanya, legenda Sigale-gale tidak ditemukan dalam hikayat-hikayat lama suku Batak Toba atupun pustaha Batak. Dari cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, legenda Sigale-gale mengakar bersama masyarakat Batak sebagai kearifan lokal. Dikisahkan, Sigale-gale bernama asli Manggale, putra tunggal dari seorang raja. Suatu ketika, Manggale gugur ketika bertempur melawan kerajaan seberang. Kematian Manggale menyebabkan dukacita mendalam bagi sang raja. Untuk menghidupkan kembali Manggale, seorang datu menyarankan raja untuk membuat patung yang menyerupai Manggale. Para pemahat terbaik di seantero kerajaan pun dikerahkan. Dengan kekuatan mantra para datu, patung Manggale itu bisa bergerak dan menari. Sang raja pun bungah kembali. Seluruh kerajaan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam menari bersama patung Manggale. Demikianlah legenda populer yang dituturkan pemandu wisata setempat bila kita berkunjung ke sana. Patung Sengketa Versi lain tentang kemunculan Sigale-gale sarat dengan nilai adat dan tradisi Batak yang menjunjung betapa pentingnya keturunan. Tersebutlah seorang ahli patung tersohor bernama Datu Panggana. Suatu ketika, Datu Panggana berhasil membuat patung berwujud seorang anak gadis dari kayu yang dipahatnya di hutan. Saat Datu Panggana terkagum-kagum menyaksikan hasil karyanya itu, datanglah pedagang bernama Bao Partiga-tiga melintasi hutan. Bao Partiga-tiga ternyata kagum dengan patung buatan Datu Panggana. Atas izin Datu Panggana, Bao Partigatiga mendandani patung itu dengan pakaian dan perhiasan dagangannya. Hari menjelang petang. Bao Partiga-tiga berusaha menanggalkan perhiasan dan pakaian yang melekat pada tubuh patung. Usahanya kandas, pakaian dan perhiasan tidak dapat lepas. Bao Partiga-tiga lantas pulang ke kampungnya dengan hati yang tidak ikhlas. Begitupun dengan Datu Panggana yang terpaksa meninggalkan hutan. Dalam benaknya, patung itu akan digotong keesokan hari dengan bantuan orang-orang sekampungnya. Namun, sebelum Datu Panggana tiba, pada pagi hari lewatlah seorang dukun tua bernama Datu Partaoar. Membuat Patung Sigale-Gale, sekira tahun 1937-1941. Foto KITLV Seperti Bao Partigatiga, Datu Partoar juga takjub dengan patung yang dilihatnya. Timbul niatan hatinya untuk menghidupkan patung tersebut. Dengan ramuan sakti sambil merapal mantra, Datu Partaoar membuat patung itu bergerak dan berlaku seperti manusia. Bukan main girangnya hati Datu Partaoar apalagi kerinduannya memiliki anak boru putri telah terpenuhi. Setibanya Datu Partaoar di rumah, kebahagiaan yang sama dirasakan sang istri pula. Pasangan suami-istri itu sepakat memberi nama si patung Nai Manggale. Pada hari pasar dibuka, Nai Manggale diperkenalkan sebagai putri angkat Datu Partaoar. Setiap pasang mata terpana menyaksikan kecantikan Nai Partaoar yang pandai menari. Berita tentang Nai Manggale tersiar kemana-mana, termasuk Datu Panggana dan Bao Partigatiga. Baik Datu Panggana, Bao Partiga, dan Datu Partaoar bersikukuh merasa memiliki Nai Manggale sebagai anak mereka. Ketiganya pun mengadukan permasalahan ini kepada raja. Namun, raja tidak kuasa memecahkan konflik kepemilikan tersebut. Raja menyarankan agar mereka mendatangi Aji Bahir-Bahir, sesepuh yang disegani karena kecerdasannya. Setelah mengamati duduk perkara dengan seksama, Aji Bahir-Bahir memutuskan bahwa ketiganya memang layak menjadi keluarga Nai Manggale. Datu Partaoar menjadi ayahnya, Bao Partiga-tiga menjadi iboto abang, dan Datu Panggana menjadi tulang paman. Status kekerabatan tersebut akhirnya diteima dengan lapang dada oleh semua pihak yang bertikai. Dengan demikian, ketika Nai Manggale kemudian dipersunting oleh Datu Partiktik, Bao Partigatiga dan Datu Panggana berhak mendapat bagian atas sinamot uang mahar pernikahan. Tahun-tahun berlalu. Nai Manggale dan Datu Partitktik hidup berumahtangga tanpa dikaruniai seorang anak. Kesepian membuat Nai Manggale jatuh sakit. Sebelum meninggal, Nai Manggale berwasiat agar pamannya Datu Panggana membuatkan patung anak laki-laki yang mirip dengan Nai Manggale. Lagi, Nai Manggale berpesan, hendaknya patung itu diberi nama Sigale-gale. “Dan sejak itulah, patung Sigale-gale sebuah patung kematian. Patung yang senantiasa dibuat bila seorang meninggal tanpa meninggalkan keturunan,” tulis Rayani Sriwidodo dalam Si Gale-Gale. Pertunjukan Sigale-gale tahun 1971. Foto Tropen Museum. Pagelaran upacara Sigale-gale selalu diiringi dengan musik gondang dan tari tor-tor. Upacara seperti itu, menurut Kamus Budaya Batak Toba yang disusun Marbun dan Hutapea, dinamai upacara papurpur sapata. Seperti halnya ritual tolak bala, upacara ini bertujuan agar keluarga atau kerabat yang ditinggalkan hendaknya selalu memperoleh keturunan, bukan seperti orang yang meninggal tersebut. Dari Ritus ke Pertunjukan Boneka Sigale-gale ada kalanya dibuat tanpa kepala. Kemudian, pada bagian kepala itu, ditempatkan tengkorak orang yang meninggal. Muka patung diwarnai dengan kuning telur sedangkan matanya terbuat dari buah-buahan merah atau besi berbentuk mata. Raga patung dikenakan pakaian yang bagus dan berharga. Sementara itu, rambutnya terbuat dari rambut kuda, lengkap dengan ikat kepala. Kepercayaan Batak kuno, terutama di sekitar Danau Toba meyakini, meyakini roh seseorang dapat menitis ke dalam patung ini. Pada masa lampau, perhelatan ritual Sigale-gale digelar bagai pesta rakyat yang megah. Biaya yang dikeluarkan terbilang besar. Penyelenggaranya, kata Dada Meuraxa dalam Sejarah Kebudayaan Suku-Suku di Sumatera Utara, harus sanggup menjamin para keluarga dan undangan yang datang dari berbagai kampung. Menurut kebiasaan di Toba, jika seorang meninggal tanpa keturunan lelaki harus diselenggarakan pesta kematian yang besar. Pada kesempatan itulah diadakan tarian boneka Sigale-gale yang merupakan perwakilan dari orang yang meninggal. “Tujuannya sekadar meringankan kehidupannya yang malang di alam baka,” kata Vergouwen dalam Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Vergouwen merupakan ahli hukum adat kebangsaan Belanda yang pernah bertugas di Tapanuli pada 1927-1930 Namun, semenjak masuknya agama Kristen ke Tanah Batak, upacara Sigale-gale tidak lagi menjadi ritus yang dikultuskan. Kendati demikian, boneka Sigale-gale tidak lantas lenyap. Kini, ia hanya menjadi sekedar pertunjukan hiburan yang mencerminkan budaya masyarakat Batak. Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung The Jombang Taste menyapa Anda kembali melalui artikel cerita rakyat Batak. Kali ini penulis membagikan asal-usul saringgon. Pada jaman dahulu kala di daerah Batak, wilayah sekitar provinsi Sumatera Utara, hiduplah seorang raja yang mempunyai enam orang istri. Meskipun raja itu sudah beristri enam orang, tak seorang pun dari keenam istrinya itu mempunyai anak. Oleh karena itu raja tersebut menikah lagi dengan istrinya yang ketujuh. Cerita rakyat Batak menyebutkan kurang lebih satu tahun kemudian istrinya yang ketujuh itu melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Si Raja Omas. Sejak dikaruniai anak itu, sang Raja dan istrinya yang ketujuh merasa sangat bersuka cita. Sebaliknya enam orang istri sang Raja yang tidak mempunyai anak itu merasa sangat iri melihat kelahiran Si Raja Omas. Oleh karena itu pada suatu malam mereka mencuri Si Raja Omas dan mereka masukkan ke dalam sebuah labu besar yang sudah dikosongkan isinya. Kemudian labu besar itu mereka hanyutkan ke aliran sungai. Keesokan harinya seorang perempuan tua yang sedang menangkap ikan di sungai melihat labu besar itu hanyut terapung-apung. Karena tertarik melihatnya si perempuan tua mengambil labu tersebut dan membawanya pulang. Perempuan tua itu sangat gembira ketika dia menemukan seorang bayi di dalam labu besar itu. Seumur hidupnya sampai suaminya mati, dia tidak pernah memiliki anak. Maka Si Raja Omas dipelihara dengan penuh kasih sayang bagaikan anak kandungnya sendiri. Cerita rakyat Sumatera Utara menyebutkan bahwa setelah tumbuh menjadi seorang pemuda Si Raja Omas bekerja menyadap aren untuk mengambil niranya. Nira itu dijadikan tuak dan dijualnya di kedai yang didirikannya dekat rumahnya. Tuak yang dijual Si Raja Omas sangat istimewa rasanya sehingga terkenal ke mana-mana. Dari berbagai tempat orang ramai berdatangan minum tuak di kedai Si Raja Omas. Cerita rakyat Sumatera Utara terus berlanjut dengan kehidupan Si Raja Omas. Asal-usul Saringgon Orang makin ramai datang minum tuak ke kedai Si Raja Omas setelah tersiar cerita bahwa Si Raja Omas mempunyai gong kecil yang disebut mongmongan. Kalau mongmongan itu dibunyikan suaranya berkata-kata seperti manusia dan menyebutkan bahwa yang punya mongmongan itu bernama Si Raja Omas, penjual tuak yang istimewa. Sementara itu, di lain wilayah Batak terdengar kabar bahwa Sang Raja ayah Si Raja Omas sudah lama sakit-sakitan. Suatu ketika dia mendapat kabar bahwa di satu kampung ada seseorang menjual tuak yang sangat istimewa rasanya. Cerita rakyat Sumatera Utara menyatakan bahwa Sang Raja menyuruh seseorang untuk segera pergi membelinya. Setelah Sang Raja minum tuak tersebut penyakitnya langsung sembuh, kemudian sang Raja menemui si penjual tuak. Ketika sang Raja sampai di kedai Si Raja Omas, kebetulan Si Raja Omas membunyikan mongmongannya untuk menghibur orang-orang yang sedang minum tuak di kedainya itu. Seperti biasanya mongmongan itu mengeluarkan bunyi yang menyerupai orang yang berkata-kata. Bunyinya, “Lihatlah sang Raja sudah datang untuk minum tuak Si Raja Omas.” Mendengar suara mongmongan itu, tahulah sang Raja bahwa pemuda yang menjual tuak itu adalah anaknya, Si Raja Omas yang dahulu hilang ketika masih kecil. Dengan perasaan yang sangat gembira sang Raja mengatakan kepada Si Raja Omas bahwa dia adalah putranya. Untuk mengetahui apakah perkataan raja itu benar atau tidak, Si Raja Omas mengajak raja itu menemui perempuan tua yang dianggapnya sebagai ibu kandungnya selama ini. Ketika mereka sudah bertemu perempuan tua bercerita tentang asal usul si Raja Omas. Dengan alasan untuk membalas budi perempuan tua itu sang Raja mengizinkan Si Raja Omas untuk tetap tinggal bersama, sampai waktunya nanti Si Raja Omas dinobatkan menjadi raja untuk menggantikannya. Kisah legenda asal-usul saringgon pun berlanjut. Asal-usul Reog Kendang Tulungagung dari Legenda Dewi Kilisuci, Joko Lodra dan Singa Lodra Cerita Rakyat Batak Pada suatu hari perempuan tua itu menyuruh Si Raja Omas pergi mandi ke sebuah telaga di tengah hutan. Cerita rakyat Batak menyebutkan bahwa ketika Si Raja Omas sampai ke dekat telaga itu tampak olehnya tujuh orang gadis yang sangat cantik sedang mandi. Pakaian mereka terletak di atas semak-semak yang tumbuh di tepi telaga. Dengan sembunyi-sembunyi, Si Raja Omas mengambil salah satu pakaian dan menyembunyikannya. Ketujuh gadis cantik itu adalah putri dewa yang turun dari kayangan untuk mandi di bumi. Selesai mandi, mereka mengenakan pakaiannya masing-masing dan terbang kembali ke kayangan. Namun, salah seorang dari mereka, yaitu yang bungsu, tak bisa terbang kembali ke kayangan. Disebutkan dalam kisah asal-usul saringgon bahwa karena pakaiannya sudah diambil dan disembunyikan Si Raja Omas. Akhirnya Si Raja Omas kawin dengan putri bungsu si dewa itu. Meskipun sudah menjadi istri Si Raja Omas, putri dewa itu tak henti-hentinya mencari pakaiannya yang disembunyikan Si Raja Omas agar dia bisa kembali ke kayangan. Setahun kemudian, lahirlah anak mereka. Menurut Si Raja Omas, karena mereka sudah punya anak istrinya tidak akan mau lagi kembali ke kayangan. Oleh karena itu, dia tidak lagi selalu mengawasi istrinya itu. Dengan demikian, istrinya mendapat peluang yang lebih banyak untuk mencari pakaiannya yang disembunyikan Si Raja Omas. Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning Legenda Rakyat Batak Pada suatu hari, istri berhasil Si Raja Omas menemukan pakaiaannya yang sudah lama disembunyikan suaminya. Pakaian itu segera dikenakannya dan kemudian dia buru-buru mengambil anak mereka yang sedang tidur di ayunan. Akan tetapi, Si Raja Omas cepat-cepat mengambil anak itu dan berusaha menangkap istrinya. Dengan cekatan, istrinya mengelak dan terbang berputar-putar di atas rumah. Melihat istrinya berbuat demikian, Si Raja Omas segera mengambil ramuan yang tidak enak baunya dan menggunakan ramuan itu untuk mengotori wajah anaknya. Si Raja Omas berbuat demikian agar istrinya tidak berani mengambil anak itu. Dalam kisah legenda saringgon dari Batak disebutkan bahwa istrinya sangat benci kepada ramuan yang tidak enak baunya. Tak lama kemudian, terbanglah istri Si Raja Omas ke angkasa. Namun, kedua orang tuanya tidak mengizinkan dia masuk ke kayangan karena dia sudah terlalu lama tinggal di dunia. Oleh karena itu, menjelmalah istri Si Raja Omas menjadi saringgon, yaitu angin yang menderu-deru menerbangkan hujan lebat. Semenjak itu setiap kali kaum ibu di Simatungun mendengar saringgon, mereka segera melumuri wajah bayi atau anak mereka yang masih kecil dengan ramuan yang tidak enak baunya. Mereka meniru perbuatan Si Raja Omas guna menyelamatkan anaknya dari putri kayangan yang telah menjelma menjadi saringgon. Demikianlah asal-usul saringgon yang didapatkan dari legenda Si Raja Omas. Pesan moral cerita rakyat batak ini adalah jangan sampai kita menyimpan kebohongan dalam hidup karena kelak dapat menyebabkan masalah. Amanat cerita rakyat Sumatera Utara ini adalah agar kita selalu mengutamakan kejujuran dalam bergaul dengan sesama manusia. Semoga kisah legenda saringgon ini bisa menambah wawasan Anda. Daftar Pustaka Hidayat, Kidh 2008. Dongeng Rakyat Se-Nusantara. Jakarta Pustaka Indonesia. Abdulwahid, dkk. 2008. Kodifikasi Cerita Rakyat Daerah Wisata Pangandaran, Jawa Barat. Bandung Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lubis, Pangaduan Z. 1996. Cerita Rakyat dari Simalungun Sumatera Utara. Jakarta Grasindo. Navis, 2001. Cerita Rakyat dari Sumatra Barat. Jakarta Grasindo. Rahimsyah. 2001. Kumpulan Cerita Rakyat dan Sejarah Nasional. Surabaya Terbit terang. Reza, Marina Asril. 2008. Cerita Terbaik Asli Nusantara. Jakarta Visimedia. Tim Optima Pictures. 2010. Cerita Nusantara Kumpulan Dongeng, Epos, Fabel, Legenda, Mitos dan Sejarah. Jakarta TransMedia. Sumardiyanto, Anwar dan Eka Katminingsih. 2011. Cerita Rakyat. Sidoarjo Dunia Ilmu. Artikel Terkait Untuk pembahasan kali ini kami mengulas mengenai suku batak yang dimana dalam hal ini meliputi bahasa, kesenian, kepercayaan dan mata pencaharian, nah agar lebih memahami dan dimengerti simak ulasannya dibawah ini. Sejarah Suku Batak Orang batak ialah penutur bahasa Austronesia dimana bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia berasal dari Taiwan yang telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar tahun lalu pada zaman batu muda “Neolitikum”. Belum diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali berada di Tapanuli dan Sumatera Timur. Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara pada zaman logam. Bahasa Suku Batak Bahasa yang digunakan oleh orang Batak ialah bahasa Batak dan sebagaian juga ada yang menggunakan bahasa Melayu. Setiap puak memiliki logat yang berbeda-beda. Orang Karo menggunakan Logat Karo, sementara logat Pakpak dipakai oleh Batak Pakpak, logat Simalungun dipakai oleh Batak Simalungun dan logat Toba dipakai oleh orang Batak Toba, Angkola dan Mandailing. Baca Juga Sejarah Suku Mentawai Kesenian Suku Batak Tari Tor-tor merupakan kesenian yang dimiliki suku Batak, tarian ini bersifat magis, ada lagi Tari serampang dua belas yang hanya bersifat hiburan. Sementara alat musik tradisionalnya ialah Gong dan Saga-saga. Adapun warisan kebudayaan berbetuk kain ialah kain ulos. Kain hasil kerajinan tenun suku batak ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Agama dan Kepercayaan Suku Batak Sebelum suku Batak Toba mengenal agama, mereka menganut sistem kepercayaan religi tentang Mulajadi na Bolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-nya terwujud dalam Debata Natolu. Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep yaitu Tondi Merupakan jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap “menjemput” tondi dari sombaon yang menawannya. Sahala Merupakan jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang, semua orang memiliki tondi tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula. Begu Merupakan tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam. Mata Pencaharian Suku Batak Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap keluarga mendapat tanah tadi tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan. Peternakan juga salah satu mata penvaharian suku batak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba. Sektor kerajinan juga berkembang, misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitnya dengan pariwisata. Sistem Kekerabatan Suku Batak Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan genealogi dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada. Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan genealogi terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian padan antar marga tertentu maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang sering kali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah. Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat. Baca Juga Sejarah Suku Pamona Adat Istiadat Suku Batak Setiap suku tentu memiliki pandangan hidup yang dipakai sebagai pedoman hidup. Falsafah masing-masing suku tidak jarang kali berbeda-beda sebab kepercayaan yang mereka yakini pun berbeda. Berikut ialah nilai-nilai adat yang dipunyai oleh Suku Batak Hagabeon Hagabeon ialah harapan masyarakat Batak guna mempunyai keturunan anak cucu yang baik. Di samping baik mereka pun selalu bercita-cita anak cucu mereka diberi kesehatan sebab adalahpenerus mereka. Tujuan utama dari pernikahan menurut keterangan dari orang Batak ialah mendapatkan keturunan. Bagi mereka keturunan ialah suatu keberhasilan yang patut dibanggakan. Terutama guna anak laki-laki yang seringkali akan meneruskan nama marganya. Uniknya lagi pada aturan adat kuno. Jika kamu orang Batak pada zaman dahulu, kamu akan diajak mempunyai 33 anak diantaranya 17 anak laki-laki dan 16 anak perempuan. Namun seiring pertumbuhan zaman, aturan tersebut sudah tidak sedikit ditinggalkan. Pada zaman kini yang dijadikan prioritas ialah kualitas dari seorang anak, bukan kuantitasnya. Maka bakal lebih dikhususkan untuk mengajar ketrampilan seorang anak dan menjangkau pendidikan yang tinggi. Uhum Dan Ugari Uhum dan ugari adalahhukum di masyarakat Batak. Orang Batak sangat mendirikan hukum dan memprioritaskan sikap keadilan. Hukum adat batak ini erat kaitannya dengan suatu kesetiaan dan jani. Jika terdapat yang melanggar suatu kesepakatan yang telah dijanjikan maka bakal menerima suatu sanksi. Misalnya andai anda ialah orang Batak dan mempunyai sebuah kesepakatan dan telah berjanji. Kemudian kamu berkhianat, maka kamu akan menerima sanksi serta bakal mendapat cacian dari masyarakat sekitar. Hukum untuk orang Batak adalah suatu urusan yang sangat urgen untuk ditaati. Marsisarian Marsisarian adalah sebuah nilai guna saling menghormati, mengerti, dan membantu. Nilai ini tercipta sebab adanya perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Maka dari tersebut dengan adanya nilai ini dapat menanggulangi konflik sosial yang ada. Selain tersebut nilai ini pun mencegah terjadinya konflik lagi dalam kehidupan sosial. Hamoraan Hamoraan dalam bahasa indonesia memiliki makna kehormatan. Seseorang bakal terhormat bilamana mempunyai kekayaan dan sikap baik terhadap sesama. Contohnya andai anda ialah orang kaya namun tidak mau menolong yang kesusahan, maka kamu dianggap tidak mempunyai nilai hamoraan. Pangayoman Berdasarkan keterangan dari pendapat orang Batak pangayoman memiliki makna bahwa seluruh orang adalahpengayom. Mereka orang Batak bakal senantiasa saling melindungi antar satu sama lain. Nilai ini menjadikan orang Batak lebih berdikari dan tidak tidak jarang kali bergantung untuk orang lain. Baca Juga Sejarah Suku Baduy Rumah Adat Suku Batak Rumah adat Suku Batak mempunyai nama yakni Rumah Bolon. Rumah Bolon di Sumatera Utara mempunyai enam jenis lokasi tinggal yang berbeda. Karena Suku Batak mempunyai enam sub suku, yakni Simalungun, Batak Toba, Mandailing, Angkola, Karo, dan Pakpak. Meskipun jenis lokasi tinggal ini berbeda-beda tetapi perbedaan lokasi tinggal ini tidaklah banyak. Rumah bolon memiliki karakteristik yaitu terdapat dekorasi ornamen pada unsur tertentu. Hiasan ornamen tersebut seringkali berada di unsur dinding atas pintu. Hiasan ini ditujukan sebagai penolak kejelekan seperti bahaya dan penyakit. Ornamen yang terdapat pada lokasi tinggal bolon disebut dengan gorga, oleh karena tersebut rumah bolo biasa dinamakan dengan sebutan lokasi tinggal gorga. Gorga adalahukiran yang seringkali bergambar binatang. Binatang tersebut ialah cicak, ular, atau kerbau dan memiliki makna tertentu. Gorba seringkali diberi warna hitam, putih, dan merah. Gorga berbentuk gambar ular diandalkan oleh orang Batak bahwa ular sebagai petanda bahwa empunya rumah bakal mendapatkan berkah yang banyak. Gorga dengan format gambar cicak memiliki makna bahwa orang Batak dapat hidup dimana juga mereka berada. Salah satunya ialah saat merantau diinginkan orang Batak tidak bakal terputus tali persaudaraannya meskipun berada di wilayah yang jauh. Di samping itu, diinginkan juga saat bertemu dengan sesama sukunya di wilayah lain maka mesti saling mengikat persaudaran. Sedangkan gorga yang berbentuk kerbau adalahucapan terima kasih. Ucapan terima kasih itu ditujukan untuk kerbau yang selalu menolong menggarap pertanian mereka. Dalam mengerakan ladang pertanian orang Batak tidak sedikit menggunakan kerbau pada zaman dahulu sebelum adanya mesin traktor dan yang lainnya. Pada unsur atap lokasi tinggal bolon bentuknya lancip di depan dan belakang. Bentuk atap ini yang menciptakan rumah bolon terlihat indah. Pada unsur depan lokasi tinggal bolon lebih panjang diabndingkan unsur belakangnya. Dengan format rumah laksana ini diinginkan keturunan dari empunya rumah bisa menjadi orang yang sukses. Pada zaman kini ini, kamu akan jarang menenukan lokasi tinggal ini. Karena tidak sedikit orang Batak yang bukan lagi menggunakan format rumah bolon. Mereka sudah tidak sedikit mengalami peradaban sehingga memilih format rumah modern dikomparasikan rumah bolon. Baca Juga “Suku Tidore” Sejarah & Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan Pakaian Adat Suku Batak Suku Batak mempunyai pakaian adat yang paling terkenal, yakni kain ulos. Kain ulos telah dijadikan sebagai identitas guna Provinsi Sumatra Utara. Kain ulos adalahkain yang berbahan benang sutra dan ditenun secara manual. Pakaian ulos ini juga dipakai dalam kehidupan keseharian karena tidak sedikit yang menyenangi pakaian ini serta nyaman digunakan. Kain ulos mempunyai beranekaragam corak dan motif yang indah. Setiap motif yang dipunyai kain ulos mempunyai makna tertentu. Kain ulos yang ditenun seringkali berwarna merah, hitam, emas, dan putih. Pada upacara adat atau acara tertentu orang Batak akan memakai kain ulos ini sebagai selendang. Suku Batak ialah suku dengan warga terbesar di Indonesia, selain tersebut penduduknya pun tidak sedikit tersebar di semua Indonesia. Hal ini disebabkan ada sebuah doktrin dari nenek moyang mereka supaya keturunannya tidak jarang kali merantau ke sekian banyak tempat. Yang sangat dikenal dari Batak ialah salah satu sub sukunya yakni Batak Toba. Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari